Senin, 10 September 2012

Mari Membaca


Salah satu ciri bangsa maju adalah budaya baca dan tulisnya tinggi. Mereka umumnya rajin membaca. Bagi mereka membaca merupakan bagian dari hidup dan buku sebagai kebutuhan pokok. Sehingga tidak heran produk buku dan media cetak lainnya cukup tinggi dan terus meningkat dari waktu ke waktu baik kualitas, kuantitas maupun jenis.
Namun pada faktanya kemampuan membaca (Reading Literacy) anak-anak Indonesia masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan ASEAN sekali pun. International Association for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar Kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke 29 setingkat di atas Venezuela yang menempati peringkat terakhir pada urutan ke 30.
Data di atas relevan dengan hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Cricis to Recovery“ tahun 1998. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI Sekolah Dasar kita hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina yang memperoleh nilai 52,6 dan Thailand dengan nilai 65,1 serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh nilai 75.5 sementara di kawasan Asia Timur Budaya membaca masyarakat Indonesia adalah yang terendah dari 52 negara. berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja Sama Ekonomi (OECD).
Menurut Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, Arini, dalam seminar “Libraries and Democracy” di Surabaya Rabu, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf. Kita bandingkan dengan Jepang, bagi mereka membaca sudah menjadi budaya positif yang dimulai sejak Restorasi Meiji seabad lalu. Dengan tekad kuat, mereka mulai menerjemahkan buku-buku asing dari Amerika dan Eropa. Masyarakat Jepang adalah masyarakat gila buku dengan fakta setiap tahun tercetak lebih dari 1 milliar buku. Budaya membaca dilakukan dimana saja mulai di sekolah, densha (kereta listrik), perpustakaan, toko buku, dll. Beberapa anak muda Jepang seringkali melakukan “tachiyomi”. Tachiyomi adalah kegiatan membaca sambil berdiri walaupun tidak membeli).
Perpustakaan Jepang tidak pernah sepi dari pengunjung. Tahun 2002 lalu, Jepang bekerjasama dengan University of Tokyo sukses meluncurkan “e-library for community” atau dikenal sebagai perpustakaan berbasis digital. Program ini diharapkan dapat menjangkau seluruh kalangan untuk dapat menikmati bacaan dengan cuma-cuma atau gratis.
Selain Jepang, ada pula negara Rusia yang juga sama-sama penggila buku. Orang-orang Rusia paling suka membaca buku. Buku yang dijual di Rusia sangat murah. Orang yang paling miskin di Rusia dapat membeli 10 buku setiap bulan. Bahan pembicaraan mereka tidak pernah lepas dari buku bacaan. Karena itulah banyak sekali ilmuwan pintar lahir disana salah satunya Yuri Gagarin. Ia adalah orang Rusia pertama yang terbang ke luar angkasa.
Malaysia dan Singapura juga sedang menggalakkan budaya membaca. Dari data yang saya peroleh Filipina yang rasio jumlah penduduk dengan surat kabar adalah 1:30 bahkan Malaysia 1:8,1. Indonesia sendiri masih 1:43 yang artinya satu surat kabar untuk 43 orang, padahal rasio yang ideal adalah 1:10.
Ironi sekali bila kita melihat indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa, namun memilki tingkat baca yang masih sangat rendah dari negara lainnya. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun atas hal ini, karena semua itu kembali kepada kita diri kita masing-masing. Dan sepatutnya kita bertanya pada diri sendiri, “SUDAH MEMBACAKAH AKU?”