Almizan
Kamis, 14 Maret 2013
ISLAMFOREV3R: Hukumnya Onani (Masturbatio)
ISLAMFOREV3R: Hukumnya Onani (Masturbatio): Kadang-kadang darah pemuda bergelora, kemudian dia menggunakan tangannya untuk mengeluarkan mani supaya alat kelaminnya itu menjadi tenang...
Senin, 24 Desember 2012
LPS kunjungi UMRAH
Tanjungpinang,
UMRAH – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kunjungi UMRAH dalam rangka mengadakan
Seminar (21/12) siang. Tema dari
seminar dimaksud adalah "LPS dalam Menjaga Stabilitas Perbankan Nasional."
Seminar tersebut dihadiri oleh
perwakilan mahasiswa dari setiap fakultas.
LPS
berdiri sejak tahun 2004 berdasarkan UU No.24 tentang LPS dan mulai beroperasi
penuh sejak tanggal 22 september 2005. Satu diantara fungsi LPS adalah menjamin
simpanan nasabah penyimpan.
Adapun
tujuan dari seminar yang dilaksanakan adalah agar mahasiswa mengetahui
pentingnya sebuah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bagi stabilitas perbankan
nasional agar tidak terjadinya kecurangan oleh pihak bank kepada nasabahnya,
sehingga para nasabah merasa aman untuk menabung.
“Apabila sebuah bank mengalami kebangkrutan, dana
tabungan para nasabah akan diganti maksimal Rp 2 milyar pernasabah perbank dengan
memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan LPS. Jaminan hanya diberikan
kepada nasabah yang menabung di bank-bank yang beroperasional di Indonesia.” Ungkap
Kepala Eksekutif LPS, Mirza Adityaswara.
Direktur klaim dan Resolusi Bank, Noor Cahyo
mengatakan, “LPS memiliki peran yang sangat penting dalam sistem keuangan di
Indonesia.”
Seminar ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi XI
DPR RI, Dr. Harry Azhar Azis, MA. Beliau mengatakan “LPS sangat berperan
penting dalam menjaga stabilitas perbankan nasional.” Tuturnya.
Akhirnya, acara ditutup dengan penyerahan bantuan
kepada tiap fakultas di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) dan LPS juga memberikan beberapa merchandise kepada Mahasiswa yang sudah
mengajukan pertanyaan serta kepada seluruh Panitia yang sudah memberikan
kerjasama yang baik.
Label:
Laporan
Lokasi:
Tanjung Pinang, Indonesia
Sabtu, 01 Desember 2012
El Clasico Asia Tenggara
Kalau kita berbicara el
clasico, pastinya yang terbayang adalah rivalitas panas antara 2 club
raksasa Spanyol yaitu Real Madrid dan Barcelona. Tetapi, apabila kita
membicarakan el clasico di Asia
Tenggara, kira-kira siapakah 2 rivalitas yang menyandang nama el clasico tersebut ?
Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah Indonesia dan
Malaysia. Partai klasik antara Indonesia vs Malaysia akan tersaji pada pada
penyisihan Grup B Piala AFF 2012, Sabtu, 1 Desember 2012. Kedua tim dari negara
bertetangga ini akan adu kekuatan di Stadion Bukit Jalil, Malaysia demi
mendapatkan tempat di babak semifinal.
Rivalitas Indonesia dan Malaysia di lapangan hijau memang
sudah sering terjadi. Hingga saat ini, kedua negara sudah 55 kali bertemu di
berbagai ajang. Hasilnya berimbang. Indonesia dan Malaysia sama-sama
mengantongi 18 kemenangan dan sisanya berakhir seri.
Di Piala AFF, Indonesia dan Malaysia juga sudah tujuh
kali bertemu, termasuk 4 pertemuan saat turnamen ini masih bernama Piala Tiger.
Hasilnya kedua tim kerap saling mengalahkan, tak pernah terjadi hasil imbang.
Indonesia menang 4 kali, sedangkan Malaysia 3 kali.
Dari tujuh laga tersebut, dua kali Indonesia bertemu
Malaysia di kandangnya, Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Indonesia menang sekali,
yakni pada leg kedua babak semifinal Piala AFF 2004. Saat itu, Indonesia menang
4-1 setelah di leg pertama tertinggal 1-2. Sayang Indonesia gagal juara setelah
di final kalah dari Singapura.
Dua tahun lalu, Malaysia membalas kekalahan ini saat
kedua tim bertemu di babak final leg pertama. Saat itu, timnas dipaksa menyerah
0-3 di Stadion Bukit Jalil. Kekalahan ini cukup mengejutkan mengingat di babak
penyisihan Grup A Indonesia berhasil membantai Malaysia dengan skor telak 5-1
di Gelora Bung Karno.
Indonesia memang berhasil memenangkan leg kedua dengan
skor 2-1. Namun hasil ini tidak cukup untuk mengantar Indonesia ke tahta juara
setelah kalah agregat 2-4 atas Moh Safe Sali dan kawan-kawan.
Legenda hidup timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto
yang menyumbang satu gol bagi kemenangan timnas di Bukit Jalil 2004 lalu telah
merasakan beratnya duel di Negeri Jiran. Menurutnya, tekanan dari publik tuan
rumah menjadi tantangan tersendiri bagi timnas.
"Jangan takut kalah dan merasa terbebani. Nothing to lose.
Jaga terus kepercayaan diri tapi tidak usah berlebihan," itulah mungkin
kalimat yang ingin disampaikan oleh pendukung setia sang Garuda untuk
memotivasi pahlawan merah putih di lapangan hijau.
Rekor pertemuan Indonesia vs Malaysia di Piala Tiger/AFF
Piala
Tiger 1996
13
September 1996: Malaysia 3-1 Indonesia (Semifinal)
Piala
Tiger 2002
27
Desember 2002: Indonesia 1-0 Malaysia (Semifinal)
Piala
Tiger 2004
28
Desember 2004: Indonesia 1-2 Malaysia (Semifinal Leg 1)
3 Januari
2005: Malaysia 1-4 Indonesia (Semifinal leg 2)
Piala
AFF 2010:
1
Desember 2010: Indonesia 5-1 Malaysia (Penyisihan grup A)
26
Desember 2010: Malaysia 3-0 Indonesia (Final leg 1)
29
Desember 2010: Indonesia 2-1 Malaysia (Final leg 2)
Selasa, 16 Oktober 2012
Kunci Menghafal Cepat dan Tahan Lama
TANJUNGPINANG (AM) - Lembaga Bimbingan
Belajar Salman Bandung menjelaskan metode penghafalan secara cepat dan tahan
lama di kampus STTI. Kata Nurul Saepul sebagai Manajer Akademik Salman Bandung.
“Metode
ini adalah metode yang kami pakai untuk menghafal cepat,” kata Manajaer
Akademik Lembaga Bimbingan Belajar Salman Bandung, Nurul Saepul di Kampus
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STTI) Tanjungpinang, Minggu (14/10).
Pada
dasarnya teknik meringkas ini telah ditemukan sejak abad ke-3 oleh para ilmuwan
Yunani dan Romawi. Prinsip dasarnya dipopulerkan oleh Dr. Tony tahun 1970-an
dengan nama Mind Map. “Ini merupakan
pelatihan kreatif training yaitu pelatihan untuk menghafal cepat dan tahan
lama,” terangnya.
Pelatihan
itu sendiri dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama adalah menghafal cepat
dansesi kedua Mind Map . “Jadi inti
dari metode tersebut adalah Mind Map,”
akunya. Metode menghafal menurut Saepul, sangat cocok bila diterapkan pada
pelajat atau mahasiswa dan guru pengajar. Pelajar atau mahasiswa akan lebih
optimal dalam memahami dan juga menghafal pelajaran ataupun mata kuliah dengan
menggunakan metode ini.
Sementara
untuk guru pengajar metode ini bisa menjadi model kreatif yaitu memberikan
contoh untuk anak didiknya tentang bagaimana cara menghafal dan mempelajari
sebuah pelajaran dengan cepat dan mudah juga tahan lama.
“Tidak
hanya menghafal angka saja, metode ini juga bisa untuk menghafal kata-kata atau
kalimat,”. Jelas Saepul. Dalam seminar dan pelatihan yang diselenggarakan
Lembaga Bimbingan Belajar Salman Bandung di STTI Tanjungpinang ini menghadirkan
pembicara Ken Paramitha dan Emyrita Diah P. Keduanya merupakan pakar dalam Mind Map di Indonesia.(am)
Senin, 10 September 2012
Mari Membaca
Salah satu ciri bangsa maju
adalah budaya baca dan tulisnya tinggi. Mereka umumnya rajin membaca. Bagi
mereka membaca merupakan bagian dari hidup dan buku sebagai kebutuhan pokok.
Sehingga tidak heran produk buku dan media cetak lainnya cukup tinggi dan terus
meningkat dari waktu ke waktu baik kualitas, kuantitas maupun jenis.
Namun pada faktanya kemampuan
membaca (Reading Literacy) anak-anak Indonesia masih sangat rendah bila
dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan
ASEAN sekali pun. International Association for Evaluation of Educational (IEA)
pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar
Kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan
ke 29 setingkat di atas Venezuela yang menempati peringkat terakhir pada urutan
ke 30.
Data di atas relevan dengan
hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah
Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Cricis to Recovery“ tahun 1998.
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI
Sekolah Dasar kita hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7
setelah Filipina yang memperoleh nilai 52,6 dan Thailand dengan nilai 65,1
serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh nilai 75.5
sementara di kawasan Asia Timur Budaya membaca masyarakat Indonesia adalah yang
terendah dari 52 negara. berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan
Kerja Sama Ekonomi (OECD).
Menurut Kepala Arsip dan
Perpustakaan Kota Surabaya, Arini, dalam seminar “Libraries and Democracy” di
Surabaya Rabu, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta
huruf. Kita bandingkan dengan Jepang, bagi mereka membaca sudah menjadi budaya positif yang dimulai sejak Restorasi
Meiji seabad lalu. Dengan tekad kuat, mereka mulai menerjemahkan buku-buku asing dari Amerika dan Eropa. Masyarakat
Jepang adalah masyarakat gila buku
dengan fakta setiap tahun tercetak lebih dari 1 milliar buku. Budaya membaca dilakukan
dimana saja mulai di sekolah, densha (kereta listrik), perpustakaan, toko buku,
dll. Beberapa anak muda Jepang seringkali melakukan “tachiyomi”.
Tachiyomi adalah kegiatan membaca sambil berdiri walaupun tidak membeli).
Perpustakaan Jepang tidak
pernah sepi dari pengunjung. Tahun 2002 lalu, Jepang bekerjasama dengan
University of Tokyo sukses meluncurkan “e-library for
community” atau dikenal sebagai perpustakaan berbasis digital.
Program ini diharapkan dapat menjangkau seluruh kalangan untuk dapat menikmati
bacaan dengan cuma-cuma atau gratis.
Selain Jepang, ada pula negara
Rusia yang juga sama-sama penggila buku. Orang-orang Rusia paling suka membaca
buku. Buku yang dijual di Rusia sangat murah. Orang yang paling miskin di Rusia
dapat membeli 10 buku setiap bulan. Bahan pembicaraan mereka tidak pernah lepas
dari buku bacaan. Karena itulah banyak sekali ilmuwan pintar lahir disana salah
satunya Yuri Gagarin. Ia adalah orang Rusia pertama yang terbang ke luar
angkasa.
Malaysia dan Singapura juga
sedang menggalakkan budaya
membaca. Dari data yang saya peroleh Filipina yang rasio jumlah
penduduk dengan surat kabar adalah 1:30 bahkan Malaysia 1:8,1. Indonesia sendiri masih
1:43 yang artinya satu surat kabar untuk 43 orang, padahal rasio yang ideal
adalah 1:10.
Ironi sekali bila kita melihat
indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa, namun memilki tingkat
baca yang masih sangat rendah dari negara lainnya. Kita tidak bisa menyalahkan
siapapun atas hal ini, karena semua itu kembali kepada kita diri kita masing-masing.
Dan sepatutnya kita bertanya pada diri sendiri, “SUDAH MEMBACAKAH AKU?”
Langganan:
Postingan (Atom)