Salah satu ciri bangsa maju
adalah budaya baca dan tulisnya tinggi. Mereka umumnya rajin membaca. Bagi
mereka membaca merupakan bagian dari hidup dan buku sebagai kebutuhan pokok.
Sehingga tidak heran produk buku dan media cetak lainnya cukup tinggi dan terus
meningkat dari waktu ke waktu baik kualitas, kuantitas maupun jenis.
Namun pada faktanya kemampuan
membaca (Reading Literacy) anak-anak Indonesia masih sangat rendah bila
dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan
ASEAN sekali pun. International Association for Evaluation of Educational (IEA)
pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar
Kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan
ke 29 setingkat di atas Venezuela yang menempati peringkat terakhir pada urutan
ke 30.
Data di atas relevan dengan
hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah
Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Cricis to Recovery“ tahun 1998.
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI
Sekolah Dasar kita hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7
setelah Filipina yang memperoleh nilai 52,6 dan Thailand dengan nilai 65,1
serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh nilai 75.5
sementara di kawasan Asia Timur Budaya membaca masyarakat Indonesia adalah yang
terendah dari 52 negara. berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan
Kerja Sama Ekonomi (OECD).
Menurut Kepala Arsip dan
Perpustakaan Kota Surabaya, Arini, dalam seminar “Libraries and Democracy” di
Surabaya Rabu, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta
huruf. Kita bandingkan dengan Jepang, bagi mereka membaca sudah menjadi budaya positif yang dimulai sejak Restorasi
Meiji seabad lalu. Dengan tekad kuat, mereka mulai menerjemahkan buku-buku asing dari Amerika dan Eropa. Masyarakat
Jepang adalah masyarakat gila buku
dengan fakta setiap tahun tercetak lebih dari 1 milliar buku. Budaya membaca dilakukan
dimana saja mulai di sekolah, densha (kereta listrik), perpustakaan, toko buku,
dll. Beberapa anak muda Jepang seringkali melakukan “tachiyomi”.
Tachiyomi adalah kegiatan membaca sambil berdiri walaupun tidak membeli).
Perpustakaan Jepang tidak
pernah sepi dari pengunjung. Tahun 2002 lalu, Jepang bekerjasama dengan
University of Tokyo sukses meluncurkan “e-library for
community” atau dikenal sebagai perpustakaan berbasis digital.
Program ini diharapkan dapat menjangkau seluruh kalangan untuk dapat menikmati
bacaan dengan cuma-cuma atau gratis.
Selain Jepang, ada pula negara
Rusia yang juga sama-sama penggila buku. Orang-orang Rusia paling suka membaca
buku. Buku yang dijual di Rusia sangat murah. Orang yang paling miskin di Rusia
dapat membeli 10 buku setiap bulan. Bahan pembicaraan mereka tidak pernah lepas
dari buku bacaan. Karena itulah banyak sekali ilmuwan pintar lahir disana salah
satunya Yuri Gagarin. Ia adalah orang Rusia pertama yang terbang ke luar
angkasa.
Malaysia dan Singapura juga
sedang menggalakkan budaya
membaca. Dari data yang saya peroleh Filipina yang rasio jumlah
penduduk dengan surat kabar adalah 1:30 bahkan Malaysia 1:8,1. Indonesia sendiri masih
1:43 yang artinya satu surat kabar untuk 43 orang, padahal rasio yang ideal
adalah 1:10.
Ironi sekali bila kita melihat
indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa, namun memilki tingkat
baca yang masih sangat rendah dari negara lainnya. Kita tidak bisa menyalahkan
siapapun atas hal ini, karena semua itu kembali kepada kita diri kita masing-masing.
Dan sepatutnya kita bertanya pada diri sendiri, “SUDAH MEMBACAKAH AKU?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar